Topnasional.com, Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali meluas di sejumlah kabupaten di Sumatera Utara, terutama di Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Toba. Hingga Minggu (07/12/2025), antrean panjang terjadi di berbagai SPBU, sementara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dinilai belum mengambil langkah cepat untuk meredakan situasi.
Keluhan warga terus berdatangan. Masyarakat menilai Pemprov Sumut seolah membiarkan keadaan semakin parah tanpa solusi yang jelas. Di SPBU Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, antrean kendaraan mengular hanya untuk mendapatkan satu liter Pertalite. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah tiga hari datang ke SPBU namun tetap kesulitan memperoleh BBM.
Kelangkaan ini turut memicu kenaikan harga di tingkat pengecer jalanan. Pertalite dijual hingga tiga puluh ribu sampai empat puluh ribu rupiah per liter. Kondisi tersebut memperburuk beban warga yang sebelumnya telah terdampak banjir dan longsor di beberapa wilayah. Sebagian masyarakat mulai menyebut fenomena ini sebagai “bencana kedua”.
Dari pantauan berbagai media, hingga kini belum terlihat respons cepat dari pemerintah provinsi. Belum ada langkah mitigasi, penertiban, ataupun penjelasan resmi yang dapat menenangkan masyarakat. Situasi ini kemudian mendapat perhatian serius dari Lembaga Cakra Indonesia (LCI).
Ketua Umum LCI, Sunggul Manalu, menegaskan bahwa pemerintah harus hadir di tengah kesulitan masyarakat dan tidak boleh membiarkan kondisi ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu. Menurutnya, muncul indikasi adanya oknum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan di tengah situasi bencana.
“Jangan sampai kelangkaan BBM ini semakin memperparah beban rakyat. Pemerintah provinsi harus bertindak cepat dan tegas. Dalam kondisi darurat seperti sekarang, negara wajib hadir secara nyata,” tegas Sunggul Manalu.
Hingga berita ini diterbitkan, Pemprov Sumut belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kelangkaan maupun langkah penanganan yang akan diambil.
***B.Marbun**

0 Komentar